HARIANKANDIDAT.CO.ID – Kematian seorang tenaga pendidik membuka tabir gelap di balik wisata rohani berbiaya mahal. Di tengah klaim tertib aturan dan transparansi anggaran oleh Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Bandar Lampung, fakta telanjang justru dibongkar pihak travel pelaksana.
Wisata rohani bernilai fantastis ratusan juta hingga miliaran rupiah yang telah digelontorkan itu digelar tanpa asuransi kesehatan bagi peserta
Kabag Kesra Kota Bandar Lampung, Jhoni Asman, berkukuh bahwa seluruh proses telah berjalan sesuai ketentuan. Mulai dari pengadaan melalui e-katalog, pembayaran berbasis realisasi, hingga klaim bahwa perlindungan asuransi telah “melekat” pada moda transportasi.
“Yang dibayar hanya yang dipakai. Kalau sisa anggaran tidak terpakai, dikembalikan ke kas negara,” ujar Jhoni, seolah menutup ruang kritik soal kualitas dan substansi belanja.
Namun pernyataan tersebut runtuh ketika Direktur travel CV Raudah Duta Adventure Reza, secara terbuka mengakui bahwa perusahaan hanya menyediakan asuransi perjalanan, bukan asuransi kesehatan.
“Kalau untuk asuransi kesehatan, kami tidak ada,” urainya
Pengakuan ini menelanjangi narasi aman dan tertib versi Kesra. Asuransi yang disebut “melekat” pada transportasi nyatanya tidak menjamin risiko kesehatan peserta, bahkan dalam kegiatan massal resmi yang difasilitasi pemkot.
Ironi seorang tenaga pendidik meninggal dunia dalam rangkaian Wisata Rohani menuju Masjid Al Jabbar, Jawa Barat. Dalam perjalanan bernilai ratusan juta rupiah itu, nyawa peserta ternyata tidak dilindungi oleh skema asuransi kesehatan apa pun.
Kesra juga berdalih bahwa e-katalog membuat proses cepat dan sah secara aturan. Namun dalih “paket siap beli” justru menimbulkan tanda tanya besar bagaimana mungkin paket perjalanan mahal disetujui tanpa memastikan jaminan kesehatan peserta?
“E-katalog itu seperti belanja barang yang sudah siap. Tinggal dibeli,” ujar Jhoni.
Pernyataan tersebut memantik kritik, karena menyiratkan pendekatan belanja yang lebih menekankan kecepatan serapan anggaran ketimbang keselamatan manusia.
Reza mengungkapkan, besaran dana yang digunakan. Untuk rombongan PGRI saja, anggaran mencapai Rp1,3 miliar. Sementara untuk 468 peserta lainnya, anggaran berada di kisaran Rp643 juta. Namun di balik angka fantastis tersebut, perlindungan kesehatan peserta tidak menjadi prioritas pembiayaan.
Meski pihak travel mengklaim telah menyertakan tiga tenaga medis dan obat-obatan, Reza mengakui tidak semua risiko kesehatan ditanggung asuransi. Bahkan untuk penyakit tertentu, peserta sama sekali tidak mendapat perlindungan.
Kematian seorang tenaga pendidik pun menjadi tamparan keras atas pernyataan Kesra yang menyebut program berjalan sesuai aturan. Fakta di lapangan menunjukkan jurang antara administrasi anggaran dan tanggung jawab perlindungan peserta.
Kini, sorotan publik mengarah langsung pada Bagian Kesra sebagai penanggung jawab program. Dengan anggaran besar yang telah dikucurkan, publik mempertanyakan apakah wisata rohani ini benar-benar soal kesejahteraan, atau sekadar perjalanan mahal yang mengabaikan keselamatan.
Desakan evaluasi total pun menguat, mulai dari mekanisme pengadaan, skema asuransi wajib, hingga akuntabilitas penggunaan anggaran agar tragedi serupa tidak kembali terulang dengan biaya uang rakyat.
(Vrg)