HARIANKANDIDT.CO.ID - Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Lampung sepanjang 2025 tercatat positif dan stabil, capaian tersebut dinilai belum sepenuhnya dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Hal itu mengemuka dalam diskusi terbatas Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Lampung yang digelar Selasa, 30 Desember 2025, sebagai bagian dari refleksi akhir tahun terhadap kinerja pemerintah daerah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Pertumbuhan Ekonomi Lampung berada di atas lima persen, inflasi tahunan pada November 2025 terkendali di level 1,14 persen (year-on-year), angka kemiskinan turun menjadi 10 persen pada Maret 2025, serta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 73,98 dan masuk kategori tinggi.
Ketua ISEI Lampung, Dr. Usep Syaipudin, menyampaikan bahwa capaian tersebut patut diapresiasi. Namun, ia menegaskan pentingnya melihat lebih jauh dampak nyata pembangunan terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.
"Perbaikan angka makro tidak otomatis berbanding lurus dengan rasa keadilan dan kepuasan publik. Di sinilah pentingnya membaca jarak antara statistik dan pengalaman warga," ujarnya.
Diskusi tersebut dihadiri pengurus inti ISEI Lampung, antara lain Dr. Fitra Dharma, Dr. Saring Suhendro, Dr. Asih Murwiati (Wakil Ketua), Dr. Dedy Yuliawan (Sekretaris), serta Dewan Pakar dan Penasihat, di antaranya Prof. Dr. Toto Gunarto, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, dan Dr. Habibullah Jimad.
Pertumbuhan Belum Sepenuhnya Merata
ISEI Lampung mencatat bahwa meski ekonomi tumbuh, manfaatnya belum sepenuhnya inklusif. Di kawasan perkotaan, aktivitas ekonomi bergerak lebih cepat, sementara di sejumlah kabupaten lapangan kerja formal masih terbatas.
BPS Provinsi Lampung mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2025 naik tipis sebesar 0,02 poin. Namun, pertumbuhan setengah menganggur meningkat cukup signifikan dibanding periode sebelumnya.
Kenaikan TPT tertinggi terjadi di Kabupaten Tanggamus sebesar 0,25 poin, sementara penurunan terdalam tercatat di Kabupaten Tulang Bawang sebesar 0,41 poin. Di Kota Bandar Lampung, TPT justru meningkat menjadi 7,53 persen.
"Ekonomi memang tumbuh, tetapi kualitas pekerjaan dan pemerataan manfaat pertumbuhan masih menjadi pekerjaan rumah," kata Dr. Fitra Dharma.
Kemiskinan Menurun, Kerentanan Masih Tinggi
Penurunan angka kemiskinan juga menjadi sorotan. Pada Maret 2025, persentase penduduk miskin Lampung tercatat turun 0,62 poin dibandingkan September 2024, atau berkurang sekitar 52,3 ribu orang secara absolut.
Namun demikian, ISEI menilai kerentanan kemiskinan masih tinggi. Banyak rumah tangga berada di sekitar garis kemiskinan dan rentan kembali jatuh miskin akibat guncangan harga pangan, biaya kesehatan, atau penurunan pendapatan.
"Penurunan kemiskinan masih banyak ditopang perlindungan sosial. Tantangannya adalah memperkuat ekonomi lokal dan menciptakan pekerjaan yang lebih layak dan berkelanjutan," ujar Dr. Saring Suhendro.
Layanan Publik Jadi Penentu Persepsi
Selain indikator ekonomi, kualitas layanan publik dinilai sangat memengaruhi persepsi masyarakat. Meski IPM meningkat, pengaduan masyarakat terkait layanan dasar, infrastruktur, dan birokrasi masih kerap muncul.
ISEI Lampung menilai masyarakat tidak merasakan pembangunan melalui laporan keuangan atau indeks statistik, melainkan melalui kondisi jalan, layanan kesehatan, pendidikan, dan respons pemerintah terhadap kebutuhan sehari-hari.
"APBD seharusnya tidak hanya diukur dari serapan dan kerapian administrasi, tetapi dari dampaknya bagi masyarakat," tegas Prof. Dr. Toto Gunarto.
Menatap 2026
Menutup diskusi, ISEI Lampung mendorong pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, untuk menggeser orientasi kebijakan dari sekadar kepatuhan administratif menuju kebermanfaatan nyata bagi warga.
"Kualitas layanan publik, ketepatan prioritas belanja, dan keberanian kebijakan akan menjadi kunci menjaga kepercayaan publik ke depan," pungkas Dr. Usep Syaipudin.