Gugurnya Bripka Arya Jadi Alarm Keamanan

Redaksi Harian Kandidat - Minggu, 10 Mei 2026 - 20:27 WIB
Gugurnya Bripka Arya Jadi Alarm Keamanan
Pemerhati Kebijakan Hukum, Sosial, Publik dan Eksekutif Nasional AKKI, Benny N.A Puspanegara. - Harian Kandidat
Advertisements

HARIANKANDIDAT.CO.ID - Gugurnya Bripka (Anumerta) Arya Supena akibat ditembak pelaku kriminal bersenjata di Bandar Lampung mendapat sorotan serius dari Pemerhati Kebijakan Hukum, Sosial, Publik dan Eksekutif Nasional AKKI, Benny N.A Puspanegara.

Benny mengatakan, peristiwa tersebut bukan lagi sekadar kasus kriminal biasa, melainkan sinyal darurat terhadap kondisi keamanan publik saat ini.

“Ini bukan sekadar berita kriminal harian yang lewat di timeline lalu tenggelam ditimpa hiburan media sosial. Ini tamparan keras terhadap wajah keamanan publik kita. Pelaku kejahatan hari ini tidak lagi sekadar mencuri, tetapi sudah berani menantang negara dengan peluru,” tegas Benny, Minggu (10/5/2026).

Ia mengungkapkan, apabila aparat terlatih saja dapat menjadi korban, maka masyarakat umum sesungguhnya berada dalam ancaman yang jauh lebih besar.

“Besok yang menjadi korban bisa mahasiswa yang pulang malam, pengemudi ojol yang mengejar order demi keluarganya, pekerja shift malam, pedagang kecil, atau seorang ayah yang hanya ingin pulang ke rumah,” ujarnya.

Bahkan, Benny menilai, maraknya penggunaan senjata api ilegal oleh pelaku kriminal menjadi ancaman serius yang tidak boleh dipandang sebagai kejahatan biasa.

“Ketika senjata api ilegal mulai bermain di jalanan, maka sesungguhnya negara sedang diuji. Siapa yang lebih berdaulat, hukum atau premanisme bersenjata,” katanya.

Ia juga menyampaikan, penghormatan kepada almarhum Bripka Arya Supena yang gugur saat menjalankan tugas negara. Menurutnya, pengorbanan tersebut harus menjadi momentum evaluasi total terhadap sistem keamanan sosial masyarakat.

Namun demikian, Benny menegaskan bahwa keamanan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada aparat kepolisian semata.

“Banyak lingkungan hari ini padat secara fisik tetapi kosong secara sosial. Tetangga tidak saling kenal, RT tidak mengenali warganya, kontrakan diisi siapa saja tanpa kontrol, lalu ketika terjadi kejahatan semua bilang, ‘Saya kira orang baik’,” ungkapnya.

Ia menyoroti rendahnya kepedulian sosial di tengah masyarakat modern. Bahkan, menurutnya, keberadaan CCTV dan grup WhatsApp warga sering kali tidak diiringi kewaspadaan nyata terhadap lingkungan sekitar. Karena itu, ia meminta fungsi lingkungan dan sistem keamanan masyarakat diperkuat secara serius.

“RT harus benar-benar bekerja. Data warga harus valid. Pendatang baru, rumah kost, kontrakan hingga tamu wajib lapor 1x24 jam harus dijalankan secara nyata, bukan hanya slogan di papan ronda,” ucapnya.

Selain itu, ia juga menyinggung keberadaan hansip dan sistem keamanan lingkungan agar tidak hanya bersifat seremonial.

“Negara tidak bisa dijaga oleh budaya simbolik yang miskin fungsi tetapi kaya pencitraan,” ujarnya.

Benny menambahkan, Polda Lampung harus mengusut tuntas jaringan senjata api ilegal yang digunakan para pelaku kriminal.

“Saya meminta Polda Lampung tidak berhenti pada pelaku lapangan. Bongkar sampai ke akar. Kejar perakitnya, distributornya, pemasok amunisinya, jalur peredarannya hingga siapa pun yang bermain di belakang layar,” tegasnya.

Menurut Benny, pelaku kriminal bersenjata tidak mungkin bergerak sendiri tanpa adanya jaringan yang terorganisir.

“Ada ekosistem kriminal yang hidup. Dan itu hanya bisa tumbuh karena ada kelengahan, pembiaran, atau ketakutan menyentuh pemain besarnya,” katanya.

Ia mendesak, aparat penegak hukum menerapkan hukuman maksimal terhadap pelaku kriminal bersenjata.

“Masyarakat tidak butuh kalimat normatif untuk konferensi pers. Masyarakat butuh hasil nyata. Tangkap, bongkar, sita, umumkan, dan hukum maksimal,” urainya.

Tak hanya itu, Benny menjelaskan, fungsi Binmas Polri diperkuat melalui edukasi kepada masyarakat terkait kewaspadaan lingkungan dan penanganan situasi kriminal.

“Bangun keberanian sipil. Karena masyarakat tidak boleh terus hidup dalam rasa takut,” katanya.

Benny menerangkan, kekhawatirannya terhadap citra Lampung di mata publik nasional. Ia mengaku sempat mendengar stigma negatif tentang Lampung saat berada di Surabaya beberapa waktu lalu.

“Ada yang berkata kepada saya, ‘Lampung itu tidak aman’. Bahkan masih mengingat cerita era 80-an tentang Rajabasa. Padahal Lampung hari ini sudah jauh berbeda dan lebih baik,” tuturnya.

Menurutnya, stigma buruk terhadap daerah dapat terus hidup apabila kasus kriminal tidak ditangani secara serius.

“Lampung tidak boleh dikenal karena begalnya. Lampung harus dikenal karena keberanian rakyatnya, kekuatan hukumnya, dan ketegasan aparatnya,” pungkasnya.

(Edi)

Advertisements
Share:
Editor: Redaksi Harian Kandidat
Source: Harian Kandidat

BACA JUGA

Advertisements
© 2024 Hariankandidat.co.id. All Right Reserved.