HARIANKANDIDAT.CO.ID – Rakyat tidak butuh pejabat yang sibuk berpesta ketimbang bekerja untuk kepentingan publik. Kedatangan Eko Patrio ke Bumi Ruwa Jurai justru sangat pantas ditolak. Ia menjadi simbol nyata bagaimana sebagian anggota dewan sering lupa diri setelah duduk di kursi empuk kekuasaan.
Video Eko Patrio yang berjoget riang ketika membahas kenaikan tunjangan DPR adalah bukti telanjang: lebih senang merayakan keuntungan pribadi daripada memikirkan jeritan rakyat.
Di tengah kondisi ekonomi sulit, harga kebutuhan pokok yang terus meroket, serta pelayanan publik yang jauh dari kata layak, aksi semacam itu merupakan penghinaan terbuka. Pejabat publik seharusnya bekerja untuk rakyat, bukan merayakan privilese mereka. Karena itu, masyarakat Lampung tidak sepatutnya menyambut tamu yang jelas-jelas menunjukkan ketidakpekaan sosial seperti ini.
Penolakan terhadap kedatangannya bukan sekadar reaksi emosional, melainkan bentuk perlawanan moral. Rakyat sudah muak dengan pejabat yang menjadikan jabatan sebagai panggung hiburan dan pencitraan. Jika Eko Patrio datang hanya untuk tampil di depan kamera, bersalaman dengan pejabat lokal, lalu pulang tanpa solusi, maka lebih baik ia tidak datang sama sekali.
“Bumi Lampung adalah tanah yang suci, tidak sudi menerima wakil rakyat yang tidak memikirkan nasib rakyatnya,” — Rafly Nugraha, Pengurus HMI Cabang Bandar Lampung Bidang Politik dan Demokrasi.
Lampung membutuhkan pemimpin yang rendah hati, siap mendengarkan keluhan rakyat, dan bekerja nyata—bukan sekadar selebritas politik. Mengundang pejabat seperti Eko Patrio ke Lampung sama saja menormalisasi sikap arogan anggota DPR yang lebih senang berjoget saat kantong mereka bertambah tebal.
Penolakan ini harus menjadi alarm bagi semua pejabat: rakyat Lampung tidak bisa lagi dibohongi dengan senyuman dan gimmick. Jika mereka datang hanya untuk pamer kekuasaan, maka rakyat berhak menutup pintu dan menyatakan dengan lantang:
“Kami tidak butuh pejabat arogan di tanah kami.”