HARIANKANDIDAT.CO.ID - Dalam rangka memperingati 97 tahun Sumpah Pemuda, akademisi Universitas Lampung Darmawan Purba menegaskan kembali pentingnya menumbuhkan kesadaran baru di kalangan generasi muda Indonesia.
Menurutnya, Sumpah Pemuda bukan hanya momentum historis yang melahirkan kesadaran kebangsaan, melainkan juga pernyataan eksistensial tentang komitmen kolektif untuk membangun masa depan bersama sebagai bangsa yang berdaulat dan berpengetahuan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Yang Muda yang Bersuara”, yang diselenggarakan oleh DPD PDI Perjuangan Provinsi Lampung pada Jumat, 31 Oktober 2025 di Kantor DPD PDI Perjuangan Provinsi Lampung.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai kalangan, antara lain akademisi, mahasiswa, Pemuda, serta perwakilan organisasi politik, untuk membahas peran pemuda dalam membangun kesadaran digital dan sosial-politik di era kontemporer.
Dalam paparannya, Darmawan Purba menguraikan bahwa generasi muda Indonesia saat ini tengah berada pada persimpangan zaman.
Di satu sisi, Pemuda memiliki tingkat pendidikan dan akses informasi yang semakin tinggi; namun di sisi lain, banyak di antara mereka yang kehilangan arah perjuangan.
“Pemuda hari ini berani bersuara di media sosial, tetapi jarang membangun suara kolektif di dunia nyata. Tantangan utama bukan lagi kurangnya wadah, melainkan lemahnya kesadaran arah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Darmawan menekankan bahwa dalam konteks keilmuan pemerintahan dan sosial-politik, pemuda tidak lagi cukup dipandang sebagai moral force kekuatan moral yang menggugah nurani bangsa melainkan harus berkembang menjadi knowledge force, yaitu kekuatan berbasis Gagasan, data, dan pengetahuan.
“Aktivisme Pemuda tidak cukup diwujudkan di jalanan, tetapi juga harus hadir di ruang kebijakan, penelitian, dan inovasi sosial,” tambahnya.
Ia menilai, di Provinsi Lampung, potensi knowledge force dapat tumbuh melalui kolaborasi antara mahasiswa dan komunitas riset kampus, pelaku usaha muda di sektor UMKM dan teknologi lokal, aktivis lingkungan serta sosial digital, hingga generasi kreatif yang menggunakan seni dan media sebagai sarana advokasi publik.
Dalam konteks politik lokal, Darmawan juga menyoroti masih adanya jarak yang cukup lebar antara energi muda dan struktur partai politik.
Partai, menurutnya, sering dipersepsikan sebagai institusi yang tertutup, sedangkan Pemuda kerap terjebak dalam aktivisme tanpa arah politik yang jelas.
“Keduanya sebenarnya saling membutuhkan. Partai politik memerlukan energi baru dari generasi muda, dan pemuda membutuhkan kanal perjuangan yang sistemik. Oleh karena itu, partai politik seharusnya berfungsi sebagai rumah belajar dan rumah Gagasan bagi pemuda, bukan sekadar mesin elektoral. Pemuda memerlukan ruang, bukan hanya panggung,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Darmawan juga menyampaikan apresiasi kepada DPD PDI Perjuangan Provinsi Lampung atas inisiatifnya menghadirkan forum reflektif dan dialogis seperti FGD ini.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi contoh nyata bagaimana partai politik dapat berperan aktif sebagai jembatan ide dan ruang pembelajaran politik bagi generasi muda.
“Forum ini menunjukkan bahwa partai politik bisa menjadi katalis perubahan sosial dan ruang aktualisasi Gagasan bagi kaum muda. Ini langkah strategis untuk memperkuat kultur dialog dan mempertemukan energi muda dengan arah perjuangan politik yang lebih substantif,” ungkapnya.
Darmawan juga menggarisbawahi pentingnya kedaulatan Gagasan di kalangan generasi muda. Ia menilai bahwa keberanian untuk berpikir, berargumentasi secara rasional, dan berkontribusi nyata merupakan bentuk aktualisasi paling otentik dari semangat Sumpah Pemuda di era digital.
“Kedaulatan pemuda tidak diukur dari banyaknya pengikut di media sosial, tetapi dari kekuatan Gagasan dan kontribusinya bagi masyarakat. Yang muda bersuara bukan berarti yang paling keras, melainkan yang paling jernih dalam menyuarakan masa depan bangsa,” ujarnya.
Menutup sesi diskusi, Darmawan mengajak seluruh peserta untuk menjadikan peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar ajang seremonial, tetapi momentum reflektif yang berujung pada aksi nyata.
“Jika Sumpah Pemuda dahulu menyatukan bahasa, bangsa, dan tanah air, maka tugas generasi hari ini adalah menyatukan Gagasan, etika, dan aksi. Pemuda yang tidak bersuara akan digantikan oleh kebisingan yang tidak berpikir,” tutupnya.