HARIANKANDIDAT.CO.ID – Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Bandar Lampung menghentikan aktivitas pengerukan bukit di kawasan perumahan elit Citra Land. Penghentian dilakukan karena pihak pengembang belum mengantongi persetujuan lingkungan.
Kepala Disperkim Kota Bandar Lampung, Muhaimin, menegaskan aktivitas pengerukan bukit tidak boleh dilanjutkan sebelum seluruh persyaratan lingkungan dipenuhi.
"Sudah itu, berhenti kok. Kan kita berhentikan. Yang jelas kalau ada aktivitas pengerukan bukit, bukan pematangan lahan mereka ya, itu melanggar," ujar Muhaimin seusai hearing di kantor DPRD Kota Bandar Lampung, Selasa (3/11/2026).
Menurutnya, keputusan penghentian tersebut juga merupakan tindak lanjut dari hasil hearing bersama Komisi III DPRD Bandar Lampung. Dalam pembahasan sebelumnya, persoalan persetujuan lingkungan menjadi salah satu hal yang disoroti.
"Kan kemarin juga pernah hearing di Komisi III. Hasilnya demikian juga, mereka tidak ada izin persetujuan lingkungan. Makanya kami Disperkim mengambil keputusan pemberhentian," jelasnya.
Muhaimin mengatakan, pengerukan bukit tersebut berpotensi menimbulkan persoalan serius bagi masyarakat yang tinggal di bawah kawasan perumahan, terutama terkait ancaman banjir dan longsor.
Karena itu, pihak pengembang diminta mengubah site plan untuk memastikan pengelolaan aliran air dari kawasan bukit tidak berdampak terhadap permukiman warga.
"Mereka kami minta merubah site plan. Kenapa? Karena bukit yang dikeruk ada lereng, mau diarahkan ke mana airnya? Sementara di bawah ada permukiman warga, yang nanti berakibat bahaya banjir dan longsor," paparnya.
Sebelumnya, warga yang bermukim di bawah kawasan Citra Land mengeluhkan aktivitas perataan bukit tersebut. Mereka khawatir pengerukan dan penimbunan lahan akan memperbesar risiko banjir, terlebih saat memasuki musim penghujan.
"Pihak Citra Land meratakan bukit untuk menimbun bagian lahan mereka yang lain. Nah, penggerusan bukit itu sangat membahayakan. Dampaknya nanti banjir buat kampung kami yang ada di bawah perumahan Citra Land," keluh seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Warga juga mempertanyakan sistem drainase dan arah aliran air hujan dari kawasan perumahan setelah kondisi bukit berubah.
"Kampung kami di bawah Citra Land pernah banjir. Kami lebih khawatir sekarang ini karena bukitnya diratakan. Kalau hujan, air dari arah perumahan mau mengalir ke mana? Tidak ada saluran air," tandasnya.
Warga berharap pemerintah kota konsisten mengawasi penghentian aktivitas tersebut dan memastikan pengembang menyelesaikan persoalan lingkungan serta sistem drainase sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.
(Okt)