Peserta Wisata Rohani Kesra Tak Dilengkapi Asuransi Kesehatan

Redaksi Harian Kandidat - Selasa, 20 Jan 2026 - 15:43 WIB
Peserta Wisata Rohani Kesra Tak Dilengkapi Asuransi Kesehatan
Terungkap dalam RDP DPRD Bandar Lampung, peserta wisata rohani yang difasilitasi Kesra hanya dilindungi asuransi perjalanan, tanpa asuransi kesehatan. - Harian Kandidat
Advertisements

HARIANKANDIDAT.CO.ID - Pelaksanaan kegiatan wisata rohani yang difasilitasi Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) terungkap tidak adanya asuransi kesehatan bagi peserta.

Kegiatan tersebut juga berujung pada meninggalnya seorang tenaga pendidik saat mengikuti rangkaian perjalanan wisata rohani ke Masjid Al Jabbar, Jawa Barat.

Fakta tersebut terungkap dari keterangan Direktur travel pelaksana kegiatan, Reza, yang mengakui bahwa pihaknya hanya menyediakan asuransi perjalanan, tanpa perlindungan asuransi kesehatan bagi peserta.

"Memang asuransinya itu asuransi perjalanan. Kalau untuk asuransi kesehatan, kami tidak ada," ujar Reza usai 

Menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I dan IV DPRD Kota Bandar Lampung, (20/2).

Reza menegaskan bahwa kegiatan Wisata Rohani tersebut dilaksanakan pada Januari, bukan Desember seperti informasi yang sempat beredar di masyarakat. Ia juga menyebut pihak travel telah menyiapkan tenaga medis selama perjalanan.

"Ada tenaga medis, kita bawa tenaga medis, obat-obatan sudah siap semua," katanya.

Menurut Reza, sebanyak tiga orang tenaga medis disertakan dalam rombongan. Namun, ia mengakui bahwa tidak seluruh risiko kesehatan peserta ditanggung melalui skema asuransi.

Bahkan, untuk sejumlah penyakit tertentu, peserta tidak mendapatkan perlindungan asuransi sama sekali.
Ketiadaan asuransi kesehatan menjadi sorotan setelah seorang tenaga pendidik dilaporkan meninggal dunia dalam kegiatan tersebut. 

Almarhum diketahui mengikuti perjalanan Wisata Rohani menuju Masjid Al Jabbar, Jawa Barat, yang menjadi salah satu tujuan utama rombongan.

Reza menjelaskan, berdasarkan laporan tour leader, korban tidak menunjukkan gejala sakit sejak awal keberangkatan.

"Informasinya ceria di bis, sampai turun kapal pun masih ada videonya. Sampai naik ke lantai tiga, dia duduk, lalu saat bangun sudah mulai roboh," ungkapnya.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan serius terkait kesiapan sistem penanganan darurat dan perlindungan kesehatan peserta, terutama dalam kegiatan massal yang difasilitasi pemerintah daerah dan melibatkan aparatur maupun tenaga pendidik.

Dalam kesempatan yang sama, Reza juga membeberkan besaran anggaran kegiatan wisata rohani tersebut. Untuk rombongan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), anggaran yang digunakan mencapai Rp1,3 miliar. Sementara untuk keberangkatan 468 peserta lainnya, anggaran berada di kisaran Rp643 juta.

Besarnya anggaran ini justru memperkuat kritik publik, mengingat dalam kegiatan bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah tersebut, perlindungan asuransi kesehatan tidak menjadi bagian dari skema pembiayaan.

Meninggalnya seorang tenaga pendidik dalam kegiatan wisata rohani ini memperluas sorotan publik, tidak hanya tertuju pada pihak travel, tetapi juga kepada Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) sebagai penanggung jawab program serta pemerintah daerah sebagai pemilik kebijakan.

Sejumlah pihak menilai, kegiatan yang dibiayai dari anggaran publik semestinya memenuhi standar perlindungan maksimal bagi peserta, termasuk jaminan asuransi kesehatan, kesiapan layanan medis darurat, serta seleksi rekanan yang ketat dan transparan.

(Okt)

Advertisements
Share:
Editor: Redaksi Harian Kandidat
Source: Harian Kandidat

BACA JUGA

Advertisements
© 2024 Hariankandidat.co.id. All Right Reserved.