HARIANKANDIDAT.CO.ID - Pendekatan penyampaian materi kebangsaan kepada generasi muda dinilai perlu mengalami transformasi agar lebih relevan dengan realitas kehidupan mereka.
Metode lama yang menitikberatkan pada hafalan dianggap tak lagi efektif untuk Generasi Z yang tumbuh di tengah arus informasi digital yang cepat dan dinamis.
Pandangan tersebut disampaikan narasumber Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) dan Wawasan Kebangsaan, Detti Febrina, dalam kegiatan sosialisasi yang diinisiasi Anggota DPRD Kota Bandar Lampung dari Fraksi PKS, Yuni Karnelis, Sabtu 07 Februari 2026.
Menurut Detti, tantangan terbesar dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda bukan terletak pada substansi ajaran, melainkan pada cara penyampaian yang kerap tidak menyentuh pengalaman hidup mereka secara langsung.
Detti menilai, Generasi Z membutuhkan pendekatan yang membumi dan dekat dengan persoalan sehari-hari.
Nilai Pancasila, kata dia, seharusnya tidak disampaikan sebagai konsep abstrak, tetapi dihubungkan dengan realitas sosial yang mereka hadapi, baik di lingkungan pergaulan maupun media sosial.
Salah satu contoh konkret yang ia angkat adalah isu body shaming atau perundungan fisik yang masih marak terjadi di ruang digital.
"Isu seperti body shaming sebenarnya sangat berkaitan dengan nilai kemanusiaan dalam Sila Kedua Pancasila. Ketika kita masuk dari persoalan yang mereka rasakan langsung, pesan kebangsaan itu akan lebih mengena dibanding sekadar teori," ujarnya.
Menurut Detti, pendekatan semacam ini akan membantu generasi muda memahami bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman hidup yang hadir dalam keseharian mereka.
Detti juga menyoroti karakter Generasi Z yang dikenal cerdas dan memiliki akses informasi luas.
Namun, disisi lain, kondisi tersebut turut membawa tantangan tersendiri, terutama dalam hal pengelolaan ego dan kontrol diri.
Ia menilai, kecerdasan tanpa diimbangi karakter kebangsaan yang kuat justru berpotensi menimbulkan persoalan sosial.
Bonus demografi yang dimiliki Indonesia, menurutnya, bisa menjadi kekuatan besar apabila generasi muda memiliki kecintaan pada ilmu pengetahuan serta nilai kebangsaan yang kokoh.
Sebaliknya, tanpa arah dan penguatan nilai, potensi tersebut dapat berubah menjadi ancaman bagi masa depan bangsa.
Tak hanya menyoroti pendekatan edukasi, Detti juga mengkritisi pola komunikasi pemerintah daerah terhadap generasi muda.
Ia menegaskan bahwa pelibatan anak muda dalam forum-forum pembangunan, seperti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), tidak boleh berhenti pada tataran formalitas.
Menurutnya, aspirasi generasi muda harus benar-benar didengar dan diterjemahkan secara nyata dalam kebijakan publik.
Ia juga mendorong Pemerintah Kota Bandar Lampung untuk lebih aktif menggandeng anak muda dalam menyelesaikan persoalan konkret di masyarakat, seperti pengelolaan sampah dan penanganan banjir.
"Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Perlu menjadi inspirator yang mampu mengajak anak muda berdiskusi dan bergerak bersama. Dari persoalan nyata seperti sampah dan banjir, nilai gotong royong dan kebangsaan bisa benar-benar diwujudkan," pungkasnya.
(Okt)