HARIANKANDIDAT.CO.ID – Kondisi Sekolah Dasar (SD) kelas jauh di Dusun Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, yang sebelumnya viral di media sosial karena bangunannya memprihatinkan, kini telah mengalami perubahan signifikan.
Sebelumnya, bangunan sekolah tersebut hanya berupa konstruksi sederhana dengan dinding papan yang telah lapuk dan atap seng yang berkarat. Kondisi itu sempat menarik perhatian publik hingga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus, Drs. Viktor Libradi, S.H., meninjau langsung lokasi.
Dalam kunjungan tersebut, pemerintah menyampaikan komitmen untuk melakukan kajian, evaluasi, serta mencari solusi guna meningkatkan sarana pendidikan bagi siswa di wilayah tersebut.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat menantikan tindak lanjut dari rencana tersebut. Di sisi lain, konten kreator asal Lampung, bang Taun, bersama sejumlah relawan dan donatur, berinisiatif melakukan penggalangan bantuan untuk memperbaiki Sekolah.
Melalui semangat gotong royong, bangunan Sekolah berhasil direnovasi menjadi lebih kokoh dan nyaman. Ruang belajar kini dilengkapi meja dan kursi baru sehingga menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak bagi para siswa.
Perubahan tersebut kemudian dibagikan melalui video di media sosial bang Taun. Dalam video itu, ia menyampaikan ungkapan bernada sindiran sebagai bentuk kritik terhadap lambatnya penanganan fasilitas pendidikan.
"Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tanggamus yang telah membangun sekolah ini... sekolah kayu. Tidak perlu repot-repot lagi, karena kami sudah membangun sekolah ini." ujarnya
Pernyataan tersebut mendapat beragam tanggapan dari warganet. Sebagian menilai ungkapan itu sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat gotong royong masyarakat, sementara yang lain memandangnya sebagai kritik terhadap belum terlihatnya realisasi perbaikan dari pemerintah.
Perbaikan Sekolah ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat, relawan, dan para donatur dapat memberikan dampak nyata bagi dunia pendidikan. Meski demikian, penyediaan sarana dan prasarana pendidikan tetap menjadi tanggung jawab pemerintah sesuai kewenangannya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan yang layak dengan fasilitas belajar yang aman, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran. Diharapkan, perhatian terhadap Sekolah-sekolah di daerah terpencil tidak hanya muncul ketika menjadi sorotan publik, tetapi juga diwujudkan melalui langkah-langkah nyata yang berkelanjutan.
(Rst)