HARIANKANDIDAT.CO.ID – Kepala Inspektorat Provinsi Lampung, Dra. Bayana, M. Si, angkat bicara terkait polemik dugaan Intimidasi Kepala Dinas Sumber Daya Alam Provinsi Lampung, Febrizal Levi Sukmana, saat kegiatan diskusi penanganan banjir di IIB Darmajaya.
Bayana mengatakan, pihaknya belum dapat memberikan kesimpulan karena masih perlu mempelajari substansi permasalahan secara menyeluruh.
“Kita pelajari dulu, karena belum memahami betul substansi permasalahannya,” ujarnya kepada media.
Meski demikian, ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi antara kedua belah pihak.
“Kami harapkan memang ada komunikasi ke dua belah pihak untuk bisa meluruskan masalah,” katanya.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan insiden tersebut terjadi akibat kesalahpahaman di lapangan. Namun, dia menegaskan sebagai pejabat sudah seharusnya menjaga sikap dimanapun saat menjalankan kerja.
Sebelumnya, beredar informasi mengenai sikap Kepala Dinas Sumber Daya Alam Provinsi Lampung, Levi, yang diduga menegur wartawan karena merasa pandangannya terhalang oleh wartawan dari area kegiatan saat berlangsungnya pemaparan terkait isu banjir di lingkungan kampus IIB Darmajaya.
Peristiwa tersebut memicu perhatian publik dan kalangan jurnalis, mengingat pentingnya keterbukaan informasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak Kepala Dinas Sumber Daya Alam Provinsi Lampung terkait insiden tersebut.
Saat ini polemik tersebut berkembang. Pernyataan Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Lampung, Febrizal Levi Sukmana, saat dikonfirmasi awak media justru memicu polemik baru.
Dalam percakapan melalui sambungan telepon dengan jurnalis, Levi menyampaikan keberatannya terkait posisi wartawan yang disebutnya menghalangi pandangan saat forum berlangsung.
“Gua itu duduk di situ, gua ini kan tamu. Tapi kan dihalangi pandangan, di depan kan wartawan semua. Gua mau lihat itu,” ujarnya
Levi menjelaskan bahwa dirinya ingin melihat jalannya forum, termasuk timer yang digunakan untuk mengatur durasi pembicara.
“Pembicara itu Bunda Eva, Roy, itu kan mau lihat timer. Tapi nggak kelihatan karena dihalangi,” katanya.
Namun, pernyataan Levi tidak berhenti pada penjelasan tersebut. Dalam percakapan yang sama, ia juga menyebut nama salah satu jurnalis, Wildan Hanafi, dengan nada yang dinilai keras.
“Bukan Wildan saja, tapi kampang Wildan itu. gua gebuk bener Wildan, gua suruh cari Wildan, wartawan mana dia ha Kandidat?! ucapnya.
Tak hanya itu, Levi juga mengaku akan mengerahkan orang untuk mencari yang bersangkutan.
“Gua cari, nanti gua suruh Septa, gua gerakin orang-orang gua… malam ini gua cari dia, biar dia tahu,” lanjutnya.
Levi juga membantah bahwa dirinya yang secara langsung mengusir wartawan dari posisi tersebut.
“Yang ngusir juga bukan gua. Gua duduk di situ aja. Tapi pandangan gua tertutup,” katanya.
Meski demikian, pernyataan lanjutan Levi kembali menuai sorotan karena dinilai bernada ancaman.
“Suruh minta maaf sama gua, suruh buat klarifikasi. Kalau enggak, awas dia,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan jurnalis, terutama terkait keamanan dan kebebasan dalam menjalankan tugas peliputan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi lanjutan dari pihak terkait mengenai maksud dan konteks pernyataan tersebut.
(Rls)