HARIANKANDIDAT.CO.ID - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, Eka Apriana, menegaskan bahwa pelaksanaan wisata rohani bagi pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berjalan lancar dan merupakan bentuk apresiasi dari Wali Kota Bandar Lampung kepada para pendidik.
Eka menyebut, musibah meninggalnya salah satu tenaga pendidik dalam kegiatan tersebut tidak boleh dipelintir menjadi informasi yang simpang siur dan menyesatkan publik.
“Alhamdulillah kegiatannya lancar. Kalau kemarin ada musibah, ya kita anggap itu musibah. Kronologisnya sudah saya sampaikan, dan pihak keluarga juga sudah mengetahui bahwa memang ada riwayat sebelumnya,” ujar Eka.
Ia meminta media turut meluruskan pemberitaan agar tidak berkembang opini keliru di masyarakat.
"Saya berharap kepada seluruh pihak media untuk meluruskan berita ini, supaya perjalanan wisata rohani ini benar-benar memiliki makna. Ini adalah wisata rohani yang diberikan oleh Wali Kota sebagai penghargaan kepada PGRI, yang isinya guru dan kepala sekolah," tegasnya.
Menanggapi pertanyaan terkait masih berlakunya Surat Edaran Gubernur Lampung mengenai larangan perjalanan ke luar daerah serta kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, Eka menegaskan bahwa kegiatan tersebut tetap sejalan dengan instruksi yang ada.
"Ini ibaratnya penghargaan dari Wali Kota, dan kami tidak menghambur-hamburkan anggaran. Kami patuh dengan instruksi yang ada. Wisata rohani ini memang memiliki tujuan yang jelas," katanya.
Terkait kriteria peserta, Eka menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diperuntukkan bagi pengurus PGRI lintas jenjang pendidikan yang hadir dalam agenda sebelumnya.
"Yang berangkat itu adalah pengurus PGRI dari tingkat TK, SD, SMP, ada SMA, bahkan swasta juga. Mereka yang hadir saat kegiatan di Sumargo, itu bentuk apresiasi," jelasnya.
Ia juga membantah adanya tudingan pilih-pilih peserta atau penunjukan sepihak oleh Dinas Pendidikan.
"Tidak ada yang namanya penunjukan oleh Dinas Pendidikan. Kita berpatokan pada daftar hadir. Kita siapkan bus, personel, dan semua berjalan sesuai mekanisme. Kalau ada yang tidak bisa berangkat, itu tidak dipaksakan," tegas Eka.
Menurutnya, persoalan sinkronisasi kehadiran dan keberangkatan merupakan hal teknis yang tidak boleh dibesar-besarkan.
"Kalau hal-hal teknis seperti itu, kami yakin tujuan kami satu, ingin memberikan yang terbaik untuk guru-guru dan pengurus PGRI," ujarnya.
Eka kembali menegaskan bahwa kegiatan wisata rohani tersebut tidak mengandung unsur diskriminasi dan tidak ada praktik pilih-pilih peserta.
"Saya minta tolong kepada rekan-rekan media untuk memberitakan yang sebenarnya, bahwa tidak ada yang namanya pilih-pilih," pungkasnya.
(Okt)