HARIANKANDIDAT.CO.ID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, mencatat pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung mencapai 5,02 persen pada Triwulan III 2026.
Meski masih tumbuh di atas 5 persen, capaian tersebut melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,29 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Perlambatan tersebut dipengaruhi penurunan produksi padi setelah berakhirnya panen gadu dan penurunan produksi tanaman hortikultura akibat meningkatnya intensitas fenomena El Nino.
Kepala KPw BI Lampung, Bimo Epyanto, mengatakan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung atas dasar harga berlaku mencapai Rp150,55 triliun.
Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan tahun 2010 tercatat sebesar Rp80,42 triliun.
"Pertumbuhan ekonomi Lampung tersebut masih lebih tinggi dibandingkan wilayah Sumatra yang mencapai 4,95 persen (yoy), dan berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,47 persen (yoy)," ujar Bimo, Sabtu (7/11/2026).
Dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi struktur perekonomian Lampung dengan pangsa sebesar 28,17 persen.
Namun, sektor tersebut hanya tumbuh 2,05 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 2,97 persen (yoy).
Bimo menjelaskan, perlambatan sektor pertanian sejalan dengan penurunan produksi padi setelah berakhirnya panen gadu serta penurunan produksi tanaman hortikultura.
"Perlambatan tersebut sejalan dengan penurunan produksi padi pasca berakhirnya panen gadu serta penurunan produksi tanaman hortikultura," jelas Lulusan S1 Ilmu Ekonomi, Universitas Indonesia tahun 1995 itu.
Ia menyebut penurunan produksi kedua kelompok komoditas tersebut turut dipengaruhi meningkatnya intensitas fenomena El Nino.
Selain pertanian, perlambatan pertumbuhan juga terjadi pada industri pengolahan serta perdagangan besar dan eceran.
Industri pengolahan tumbuh 5,63 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 6,99 persen.
Sementara itu, perdagangan besar dan eceran tumbuh 5,78 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 7,98 persen.
Meski melambat, kedua sektor tersebut masih menjadi sumber pertumbuhan Ekonomi terbesar dengan kontribusi masing-masing sebesar 1,04 persen dan 0,83 persen.
Di sisi lain, sektor konstruksi justru mengalami peningkatan pertumbuhan dari 6,57 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 7,98 persen (yoy).
Sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 0,80 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Lampung.
Pertumbuhan juga terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan yang mencapai 7,97 persen serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,46 persen.
Peningkatan kedua sektor tersebut didukung meningkatnya mobilitas masyarakat dan kunjungan wisatawan nusantara.
Selain itu, sektor pengadaan listrik dan gas tumbuh 9,74 persen (yoy) seiring peningkatan produksi dan penjualan listrik di Provinsi Lampung.
"Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Lampung," kata mantan Deputi Kepala Perwakilan – Grup Perumusan & Implementasi KEKDA ini.
Komponen tersebut tumbuh 4,87 persen (yoy) dengan kontribusi sebesar 2,85 persen terhadap pertumbuhan Ekonomi.
Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi juga mengalami peningkatan pertumbuhan dari 3,08 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 6,08 persen (yoy).
Peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya aktivitas konstruksi pemerintah maupun swasta dan memberikan kontribusi sebesar 1,88 persen terhadap pertumbuhan Ekonomi.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 5,77 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 12,80 persen sejalan dengan perkembangan realisasi belanja pemerintah.
Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor Lampung tumbuh 2,63 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,12 persen.
Meski demikian, secara kumulatif Januari hingga September 2026, nilai ekspor barang meningkat 3,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut terutama ditopang ekspor industri pengolahan sebesar 13,38 persen serta sektor pertambangan dan lainnya sebesar 38,22 persen.
Sebaliknya, ekspor sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 36,77 persen. Sementara itu, impor Lampung tumbuh 1,72 persen (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,18 persen.
Secara kumulatif Januari hingga September 2026, nilai impor barang mengalami penurunan sebesar 25,86 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi impor migas yang merosot 93,06 persen.
Di sisi lain, impor nonmigas justru meningkat sebesar 36,48 persen. Adapun impor bahan baku dan penolong turun 39,39 persen, sedangkan impor barang modal meningkat 5,01 persen dan barang konsumsi melonjak 711,20 persen. (*)